Puisi-Puisi Kenangan dan Dunia Sastra-ku

Dear My Blog.

Stira Prana Duarsa, Warih wisatsana, dan beberapa nama lain. Nama-nama itu masih terngiang di kepalaku sejak masih SMP dulu, puisi2 nya sering ku bawakan dalam lomba2 Sastra dan event PSR ( Pekan Seni Remaja ). Sampai kini puisi tersebut masih ada di pikiranku. hingga malam ini.. Ya, para sastrawan. Mereka itu sangat inspiratif, romantis dan kreatif saat menumpahkan seluruh perasaannya dalam puisi.

Sejenak ku mengingat 12 tahun yang lalu. Salah seorang guru, pembina, sahabat, sekaligus satu dari sastrawan itu adalah Warih Wisatsana. Beliau sangat bersahabat dengan anak didiknya termasuk saya. Ketika memulai belajar tentang seni dan kesusastraan terutama mengenai puisi, cerpen, prosa, drama, dan teater. Sungguh menyenangkan disaat berkumpul, meluapkan emosi dalam teriakan2, diam dalam sebuah perenungan, ekspresi sedih dan pilu dalam sebuah puisi, atau menggambar hati dalam baris-baris puisi. Beliau lah yang mengajarkan aku cara membaca cerpen, puisi, memerankan tokoh dalam sebuah drama teater.

heart

Aku senang bisa belajar, walaupun tanpa prestasi. Setidaknya memperoleh nilai tertinggi untuk puisi dan bahasa indonesia di kelas sudah cukup membuatku senang. Ada beberapa puisi yang masih melekat dalam ingatanku, beberapa baris yang memiliki nilai emosional. Tiba-tiba terngiang malam ini. Benar-benar malam yang emosional.

Denpasar Senja Hari

Di Stasiun Matahari.
Kereta kudaku terbakar.
Tanganku terkulai,
meremas pantai.

Bau gerimis dan ranting patah,
Berjatuhan diatas pualam,
kau genggam tanganku,
kau baca pikiranku,
Terkulai..

———————————
Gaun pengantin kelam dalam ——,
Begitu hijau,
Bagai salju diatas jendela,
———————————
Tertembus hening cahaya,
dipantulkan pelangi,
ke pusat prisma di inti jiwa,
melebur tenaga tubuh,
ke bening hidup,
di rumah kita,
di Sanur.

hmm sepertinya saya lupa beberapa baris puisinya.. (saya beri tanda —– )
Mungkin ada yang tahu? mohon dibantu ya..

ada lagi puisi berjudul ‘Julurkan lidahmu, Kuta’

lagi2 saya hanya ingat beberapa baris:

Sepertinya aku terperangkap dalam keramaian yang asing,
Kita pernah bersepakat tentang laut,
yang cemburu pada warna kulitmu,
melepuh terbakar matahari.

Massage sir.
Mari berteduh di kerindangan pohon kecil itu, katanya..
Tapi kita selalu berselisih jalan tentang kehidupan.
SALING cemburu berebut pasir dalam bayangan rambutmu yang terbakar,
aku DIAM, saat kau memintal rambutku..

Honey.. apakah kau pernah CEMBURU honey,
dalam keramaian UDARA MILIK SIAPA SAJA,
Lidah mu bisa menjilati tubuh siapapun,
tapi senja tak selalu —————-

Kita memang tak selalu sepakat tentang lidah yang asing.

dan sebuah puisi yang saya lupa judulnya.

Masih banyak tempat untuk singgah,
pulau-pulau kecil yang kelam,
hanya ujung kabut mengukur ketinggian langit,
dan panjang musim berkelana…

Cukuplah malam ini saya bernostalgia masa-masa SMP yang penuh dengan kegiatan seni dan kesusastraan. Hingga saat ini tetap ada dalam memori indah hingga akhir hayat nanti🙂

—————————————
Huff.. ternyata malam ini memang berat..
—————————————————————
Photo.
Red paper heart.Stock.exchange. by Lania1 in stockexchange on Mar 19, 2011.

GLossary :
PSR : Pekan Seni Remaja. Event perlombaan seni antar pelajar dalam memperingati bulan bahasa. Cabang yang dipertandingkan meliputi puisi, cerpen, drama, dan seni lainnya.
Massage sir : pijat, tuan (english).

0 Responses to “Puisi-Puisi Kenangan dan Dunia Sastra-ku”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




My Archives


%d bloggers like this: